Langkah 1: Kumpulkan kronologi dan bukti dasar sejak awal kejadian. Tim menyusun daftar pihak terlibat, lokasi aset, serta tanggal penting untuk menghindari informasi yang berubah. Semua dokumen dipindai dan diberi penamaan yang konsisten agar mudah ditelusuri.
Langkah 2: Petakan status properti dan potensi kebocoran/kerusakan rumah yang memperuncing konflik. Tim mengecek sertifikat, PBB, IMB/PBG bila ada, serta bukti pembayaran utilitas sebagai indikator penguasaan. Bersamaan, lakukan inspeksi rumah berkala untuk menemukan kebocoran atap, pipa, atau retak dinding yang bisa memicu biaya tambahan dan perselisihan tanggung jawab.
Langkah 3: Tetapkan tujuan penyelesaian yang realistis untuk keluarga dan aset bersama. Tim merangkum apakah prioritasnya mediasi, pembagian penggunaan, atau penataan ulang hak dan kewajiban. Dalam konteks konsultasi hukum keluarga, catat kebutuhan komunikasi yang aman, perlindungan anak, dan batas interaksi agar proses tidak memperburuk situasi.
Langkah 4: Audit aktivitas UMKM yang terkait properti, seperti sewa tempat usaha, gudang, atau rumah yang dipakai operasional. Tim menginventaris kontrak sewa, bukti transfer, invoice, dan percakapan yang relevan. Jika diperlukan bantuan hukum bisnis UMKM, siapkan ringkasan alur bisnis, struktur kepemilikan, dan daftar mitra agar penilaian risiko lebih cepat.
Langkah 5: Pastikan dasar hukum ketenagakerjaan dipenuhi sebelum sengketa merembet ke hubungan kerja. Tim memeriksa apakah ada pekerja yang terdampak perpindahan lokasi, perubahan jam kerja, atau penutupan sementara. Dokumentasikan kebijakan cuti, upah, dan keselamatan kerja secara jelas untuk mencegah salah paham.
Langkah 6: Susun proses pembuatan kontrak kerja atau addendum bila ada perubahan peran akibat restrukturisasi keluarga/UMKM. Tim menyiapkan uraian tugas, masa kerja, skema upah, kerahasiaan, dan mekanisme penyelesaian perselisihan. Pastikan bahasa kontrak mudah dipahami, konsisten, dan sesuai regulasi yang berlaku.
Langkah 7: Evaluasi opsi energi surya untuk rumah atau tempat usaha sebagai bagian penghematan jangka menengah, tanpa mengganggu sengketa. Tim menghitung perkiraan konsumsi listrik, jam beban puncak, dan perhitungan kebutuhan panel surya beserta ruang atap yang tersedia. Keputusan pemasangan sebaiknya menunggu kejelasan otoritas pengelolaan aset agar tidak memunculkan klaim biaya sepihak.
Langkah 8: Buat rencana perawatan rumah berkala yang netral dan dapat diaudit. Tim menetapkan jadwal cek talang, waterproofing, pembersihan drainase, dan pemeriksaan instalasi listrik untuk pencegahan kebocoran rumah. Setiap tindakan dicatat dengan foto sebelum-sesudah, nota, dan persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.
